It’s all about destiny

Sering kali manusia selalu mengkhawatirkan sesuatu yang belum terjadi, hal ini hanya  akan menambah beban pikiran. Sesuatu yang  seharusnya mudah akan terasa dua kali lebih sulit sebelum mencobanya. Semakin berdiam diri dan memikirkannya, semakin besar pula kekhawatiran itu. Begitu pula denganku, banyak hal yang selalu aku khawatirkan sebelum keberangkatanku. Berpergian jauh sendiri merupakan hal yang tak pernah kulakukan sebelumnya. Banyak hal yang mengganggu pikiranku dan membatasi diriku. Saat tiba di Jerman nanti, kendaraan apa yang harus aku gunakan untuk menuju tempat tinggalku, bagaimana membeli tiket kendaraan di sana, dan adakah orang yang akan menolongku. Pertanyaan-pertanyaan  itu selalu membuatku khawatir dan cemas.

Selagi menunggu hari keberangkatan, aku berusaha mencari teman untuk menemaniku setidaknya saat aku tiba di bandara nanti hingga menuju tempat tinggal. Banyak orang yang memberikan informasi dan tips ketika tiba di Jerman . Ya, aku tau konsekuensi berharap dengan manusia hanyalah kekecewaan yang diperoleh. Pada akhirnya tak seorangpun dapat menemaniku, karena berbagai alasan. Sesaat aku berpikir ulang, terpilih untuk pergi ke sana, itu berarti Tuhan telah mempersiapkanku untuk dapat menghadapi segala sesuatunya. Tidak ada masalahnya untuk berpergian sendiri, dari situ akan banyak pengalaman dan pelajaran yang menakjubkan. Los geht’s! (Let’s go)

⸙⸙⸙

Di sebalah kanan dan kiriku duduklah bapak-bapak yang berwajah Eropa dan Arab. Aku yang berada di tengah hanya terdiam seribu bahasa.

„Apakah ini pengalaman pertamamu berpergian dengan pesawat?“  Tanya seorang bapak yang berwajah arab.

Mungkin wajahku yang cemas ini tampak jelas terbaca olehnya , karena dipikiranku terlintas hal-hal yang buruk saat menaiki pesawat seperti pada berita yang disiarkan di televisi.

„Iya benar.“ Jawabku singkat sambil tersenyum sedikit.

Dari percakapan kecil itu mengalir obrolan yang  membuatku lupa akan kecemasan itu dan tak disangka bapak tersebut adalah seorang dosen dari kampus terkenal yang berada di kotaku. Betapa malunya aku saat mengetahuinya, karena bahasa Inggrisku terbata-bata dan apa adanya. Saat memiliki waktu lenggang beliau bercengkrama dengan ponselnya, bukan untuk berseluncur di dunia maya  melainkan menjalin hubungan dengan Al-Quran. Mungkin ini yang dijanjikan Allah, ketika akherat yang kita kejar, maka dunia akan mengikuti dan tidak dengan sebaliknya. Bapak tersebut memiliki pekerjaan yang baik, keluarga yang harmonis dan juga badan yang sehat bugar. Itu hanyalah sebagian kecil nikmat dunia yang diperolehnya.

Sesampai di Changi kami berpisah, namun bapak tersebut mengantarkanku ke terminal tempatku menunggu pesawat selanjutnya.

„Sambungkan ponselmu dengan wifi dan hubungi orangtuamu, katakan bahwa kamu baik-baik saja.“ ucap beliau sambil berpisah denganku.

Tidak tau lagi bagaimana aku harus berterima kasih pada beliau. Mungkin ini adalah tanda bahwa ketika aku sendiri, Tuhan akan mengirimkan malaikat-Nya untuk mengawalku. Dari kejadian tersebut aku semakin yakin dan berani untuk melangkahkan kakiku berpergian sendiri. Sepuluh jam ke depan akan kuhabiskan waktuku di tempat ini. Banyak tempat yang dapat dikunjungi di Bandara Changi, namun aku lebih memilih untuk mengikuti tour gratis. Aku ingin memandang langit dan laut Singapur secara langsung dan anggap saja ini adalah negara pertama yang tercatat pada pasporku. Lagi-lagi aku berjalan sendiri ketika orang lain bergerombol. Aku merasa kehilang arah dan sedikit linglung saat berjalan. Tak ada lagi teman ataupun sesorang yang membantuku menemukan jalan. Ya, aku sendiri yang menentukan setiap langkahku.

Kami menaiki sebuah  bus bertingkat dalam tour ini, beberapa destinasi yang akan kami kunjungi diantaranya seperti Esplanade – Theatres on the Bay yaitu gedung berbentuk seperti durian yang digunakan untuk pertunjukan internasional, selanjutnya tempat yang wajib dikunjungi saat berkunjung ke Singapur yaitu Merlion Park,  yang khas dengan patung singa dan ada pula Gardens by the Bay, taman yang dihiasi lampu seperti pada dunia Avatar. Setiap destinasi memiliki waktu pemberhentian kurang lebih 20-30 menit, dengan waktu tersebut kita bebas mengeksplor tempat tersebut tanpa harus selalu bersama group. Kakiku terus melangkah mengenal Singapur lebih dekat dan kuabadikan dalam ponselku. Banyak turis dan warga asli mengunjungi destinasi tersebut. Kami semua menikmati suasana yang syahdu ini.

Processed with VSCO with g3 preset

Saat di Bus ada sepasang pasutri yang berasal dari India, mereka memiliki dua anak yang masih kecil. Tepat diseberangku mereka duduk, dan tiba tiba anak sulung mereka duduk disampingku. Namanya adalah Siva, ia berumur sekitar 6-7 tahun. Pada awalnya dia mengajakku berbicara bahasa India, tentunya aku tak mengerti apa yang ia ucapkan dan kubalas dengan senyuman. Akhirnya dengan berani ia mengajakku mengobrol menggunakan bahasa Inggris.

“Are you boy or girl?”

Siva bingung melihatku yang mengenakan kerudung dan aku menjawab sambil menahan tawa.

„I’m a girl.“

„Are you bad or good girl?”

“Of course, I’m good girl!”

Aku ingin tertawa saat mendengar pertanyaan polos dari Siva. Setelah itu ia memintaku untuk memakai kacamata, lalu ia berkata “lepas kainmu”. Mungkin ia pikir kacamata tersebut tak bisa kupakai ketika aku memakai kerudung. Aku sangat bingung bagaimana menjelaskannya pada Siva mengenai kerudung yang ku kenakan. Akhirnya ayahnya menasihati Siva untuk tidak menggangguku. Setelah tiba di Bandara lagi, kami berpisah, Siva melambaikan tangannya dan berkata “See you again!” sambil tersenyum lebar. Hanya Siva yang menghiburku saatku sendiri kala itu.

Seusai Tour aku ingin mengunjungi tempat lain, namun apa daya kaki ini tak tahan untuk segera beristirahat. Ya, Changi begitu luas dan megah hingga aku lupa bahwa ini hanyalah tempat persinggahanku sementara. Sama halnya dengan dunia, yang begitu indah namun ternyata fana.  Aku putuskan untuk beristirahat sambil menanti waktu Boarding. Pukul 22.30 nanti aku akan bertolak ke Jerman. Sudah waktunya aku untuk boarding,  saat pengecekan tas  aku kesulitan mengambil laptopku karena terhimpit dengan barang lainnya. Tiba tiba orang Jerman dibelakangku membantuku dan dia melihat sticker DAAD yang ada di Laptopku. Akhirnya obrolan kecil terjalin, wanita itu begitu ramah dan murah senyum. Namun kami berpisah saat di ruang tunggu. Meskipun begitu, aku sangat bersyukur selalu ada orang baik yang menemani setiap langkahku.

Saat berada di dalam pesawat lagi-lagi aku berada pada posisi tengah, di samping kiriku terdapat gadis yang berasal dari asia yang ramah dan di sebelah kananku ada seorang pria yang berasal dari India. Pria tersebut mengajakku mengobrol, mungkin karena ia bosan karena harus berada dalam pesawat kurang lebh 12 jam. Pada awalnya terasa canggung. Aku hanya menjawab semua pertanyaan yang ia ajukan. Saat aku mulai terlelap dia mengatakan hal yang kurang sopan sebagai orang asing, aku tidak tau apakah ia sadar saat itu karena ia meminum Vodka sebelumnya. Aku hanya membiarkannya dan melanjutkan tidur. Saat hampir tiba di bandara Düsseldorf ia meminta maaf padaku atas perilakunya. Sungguh kejadian itu sangat membuatku tidak nyaman, jika bisa pergi dari kursi tersebut akan kulakukan. Dalam setiap perjalanan pasti kita kan menemui rintangan atau masalah, namun yang terpenting adalah bagaimana kita meresponnya. Aku tak ingin mengambil pusing masalah itu dan melupakan kejadian itu.

Lima menit lagi kami akan menginjakan kaki di Jerman, dari ketinggian terlihat Sungai Rhein yang begitu elok dan suasana pagi yang mulai terang namun masih terlihat kelap kelip lampu. Matahari yang terbit seakan mebangunkan manusia untuk mencari rezeki. Akhirnya pesawat sudah mendarat, kami diperbolehkan mengambil tas yang ada di Dashboard.  Saat menaikan tas aku dibantu oleh seorang bapak yang berasal dari Asia. Sepertinya berasal dari China dan aku menggunakan bahasa Inggris padanya. Saat mengambil tas, aku dibantu kembali dengan bapak itu. Ternyata beliau memiliki kewarganegaraan yang sama  denganku, beliau bersama istrinya mengunjungi Jerman untuk kesekian kalinya dalam rangka bisnis. Sebenarnya aku khawatir apa yang harus kulakukan saat di Bandara nanti, akhirnya kami bersama menuju imigrasi. Setelah itu aku harus mengambil koperku, namun aku tidak tahu dimana tempat itu. Ku beranikan diri bertanya dengan polisi yang ada di Bandara menggunakan bahasa Jerman, lalu ia memberitahuku. Saat aku berjalan, ada seorang ibu yang berwajah arab menunjukan arah dengan begitu ramah. Lalu kubalas beliau dengan senyuman tanda terima kasih.

Setelah mendapatkan koper aku harus melewati jalur yang bertuliskan “Ausgang” (Exit).  Wajah-wajah rindu memenuhi area kedatangan, mereka mungkin menanti  sanak saudara, kerabat maupun teman. Aku berjalan dengan koper dan menggendong ransel dipundakku. Seorang wanita berdarah Indonesia menyambutku dengan senyuman dan memeluku dengan perasaan sangat lega. Kemudian dari belakangnya, seorang pria Jerman tersenyum sambil ingin memeluk-ku. Secara refleks aku menjabat tangannya, ya begitu kaku pertemuan kami. Bak sebuah film kami dipertemukan di tempat dan waktu yang tak terduga dan ternyata kami memiliki hubungan darah. Singkat cerita beberapa hari sebelum keberangkatanku tak sengaja keluargaku memberitahuku, bahwa di Jerman tinggal saudara jauh kami. Dari semua kejadian yang kualami aku yakin bahwa khawatir hanya ada di dalam pikiran saja, hadapilah segalanya dan biarkan semua berjalan sesuai dengan skenario Tuhan.  

Leave a comment