Setiap hari aku mendengar kendaraan berlalu lalang, kapal yang berlayar di sepanjang sungai Rhein, dan langkah kaki manusia yang terburu-buru. Aku suka suara itu, aku merasa tak sendiri di sini. Aku menelusuri jalanan di kota yang ramai dan riuh ini. Jiwa ini terasa bebas tanpa beban dan ancaman. Ku biarkan kaki ini melangkah kemanapun ia ingin pergi. Tak terasa sejak siang hingga malam aku berada di luar dengan cuaca yang mendung dan berangin ini. Aku sudah tidak tahan lagi dan memutuskan untuk pulang ke apartemen dengan U-Bahn (Kereta bawah tanah).
Keretaku akan datang dalam dua menit, aku menunggu sambil memperhatikan orang-orang di sekelilingku. Setiap orang yang menaiki kereta akan diperiksa oleh petugas sewaktu-waktu, apakah ia membawa tiket atau jika memiliki tiket apakah tiket itu masih berlaku. Jika penumpang tidak memiliki tiket atau tiket tersebut sudah tidak berlaku lagi maka disebut penumpang gelap. Tidak segan-segan penumpang gelap akan dikenai denda 80 euro atau dibawa ke kantor polisi. Aku merasa deg-degan karena petugasnya terlihat garang dan bertato. Tapi aku tak perlu takut karena aku sudah membeli tiket. Petugas itu menghampiriku.
„Bisa tunjukan tiket Anda?“
„Ini tiket saya.“
„Identitas Anda? Paspor atau sejenisnya untuk mencocokan wajah Anda.“
„Maaf saya tidak bawa paspor, saya hanya ada kartu kursus.“
„Kartu lainnya yang ada foto anda!“
Sial aku lupa menaruh pasporku, bingung dan keringat dingin menghampiriku. Lalu aku tunjukan foto yang ada di dompetku tapi petugas itu tetap meminta kartu identitas.
„Lain kali bawa kartu identias!!!“
Petugas itu sangat kesal padaku, tapi tunggu dulu! Sepertinya kereta ini menuju bukan ke arah saat aku berangkat tadi. Segera kubuka ponsel untuk mengecek arah menuju apartemen. Memang aku belum genap seminggu di kota ini, namun sedikit demi sedikit aku mengenal jalanan di kota ini. Benar saja! Saat kereta akan berhenti dan ada pemberitahuan halte selanjutnya, nama yang disebutkan berbeda dengan yang ada di ponselku. Bergegas aku turun dan mencari kereta yang menuju ke apartemen.
Akhirnya aku tiba di apartemen dengan kelaparan dan kedinginan. Kaki ini terasa sakit, entah sudah berapa langkah yang kutempuh. Aku pergi mandi dan langsung makan malam. Setelah itu ku rapikan kamar tidur dan mengeluarkan isi dalam tas. Ah sial! Ternyata pasporku terselip di tumpukan buku. Untung saja aku tidak bermasalah dengan petugas pemeriksa berotot itu. Malam ini aku tak boleh tidur terlalu larut karena pagi-pagi sekali aku harus bergegas ke Hauptbahnhof (Stasiun). Alarm di ponsel tak lupa aku setel, agar tidak kesiangan. Alarm berbunyi dan aku mematikannya sambil setengah terbangun. Ternyata…. aku kesiangan! Tidurku terlalu nyenyak sehingga aku harus tertinggal keretaku. Meskipun matahari belum bersinar dan orang-orang masih terlelap dalam tidurmya tapi aku harus pergi. Kereta berikutnya tak boleh sampai terlewatkan.
Aku tak sabar ingin bertemu dengan sesorang yang selama bertahun-tahun hanya kujumpai dalam ponselku. Kita sudah berjanji akan bertemu di sebuah kota. Kata orang kota itu kota romantis di Jerman. Pemandangan yang indah menjadi inspirasi bagi sastrawan Jerman pada masanya. Aku membayangkan bagaimana suasana kota itu, pasti sangat hangat dan damai. Jembatan yang dilalui oleh sungai Neckar yang menjadi ikon kota itu, akan menambah syahdu suasana.
„Kereta RE 2 dengan tujuan Koblenz akan tiba dalam sesaat lagi, bagi penumpang diharap berada di peron 1“
Sesaat aku terbangun dari lamunanku karena suara pemberitahuan yang mengatakan bahwa keretaku akan segera datang. Hari ini memang hari libur tak heran banyak orang yang berpergian menggunakan kereta. Di dalam kereta kami harus berebut tempat duduk, tapi tentunya harus memprioritaskan ibu hamil dan orang tua untuk duduk terlebih dahulu. Ada juga orang yang membawa sepeda dan harus diletakan dipinggir dekat dengan pintu. Sebenarnya sangat mengganggu karena tempat sudah penuh, tapi mau bagaimana lagi. Kita semua sudah membayar tiket dan memang seharusnya mendapatkan haknya masing-masing.
Setelah sampai di Koblenz aku harus menaiki kereta yang menuju ke Mainz. Aku menikmati perjalananku, pemandangan kiri dan kanan dipenuhi dengan hutan, sungai dan rumah-rumah penduduk. Tiba-tiba terdengar suara pemberitahuan.
“Penumpang yang terhormat kereta ini mengalami keterlambatan 15 menit, kami akan berusaha untuk tiba di Stasiun Mainz dengan tepat waktu.”
Jika saja aku tidak dapat tiba di Mainz tepat waktu, maka aku tida bisa menaiki kereta selanjutnya yang menuju ke Heidelberg. Aku sangat gelisah sekali, bagaimana tidak ini pengalaman pertamaku berpergian jauh, namun sudah terjadi hal yang tak diinginkan seperti ini. Saat ku lihat peta di layar, semua jalur berwarna merah. Itu berarti kereta ini tidak dapat sampai pada tujuan sesuai dengan jadwal. Tiba-tiba ponselku berdering.
“Keretamu terlambat! Coba tanyakan pada petugas, apakah kamu masih bisa sampai tepat waktu, jika tidak tanyakan kereta apa yang bisa kau naiki selanjutnya. Bila kamu bingung biar aku yang berbicara pada petugas itu, berikan ponselmu padanya sekarang juga.”
“Iya… iya.., aku akan menanyakannya sendiri. ”
Dia memang begitu, selalu khawatir saat aku berpergian jauh sendiri. Dia akan memantau keberadaanku untuk memastikan aku baik-baik saja. Lalu aku mencari petugas dan bertanya padanya.
„Maaf, apakah kereta ini akan tiba tepat waktu di stasiun Mainz?“
„Kami sudah mengatakan tadi, kami akan berusaha untuk tepat waktu.“
Aku hanya terdiam, karena petugas itu berbicara cepat sekali.
„Saya tidak berbicara bahasa Inggris!“
„Oke danke.“ jawabku
Menyebalkan sekali petugas itu, akhirnya aku kembali ke tempat duduk. Benar saja! Kereta ini terlambat 20 menit, aku bergegas mencari informasi kereta mana yang dapat mengantarkanku ke kota romantis itu. Akhirnya ada kereta yang menuju ke kota itu! Aku berlali sekencang mungkin ke peron lain. Saat aku menuruni tangga, pintu kereta tertutup dan kereta itupun langsung berangkat. Kalian bisa bayangkan betapa paniknya dan terengah-engahnya diriku saat itu.
Aku memilih untuk duduk dan membuka bekal yang kubawa. Jam telah menunjukan waktu makan siang. Aku yang belum makan sedari pagi tak bisa berpikir lagi. Sambil makan aku mencari informasi kereta mana lagi yang bisa menghantarku ke Heidelberg. Untungnya ada kereta terakhir yang menuju ke kota itu. Dalam waktu 10 menit kereta akan tiba.
Tak seperti kereta sebelumya, kereta yang ku naiki ini sangat sepi. Tidak ada orang yang bisa ku ajak mengobrol karena para penumpang sibuk dengan gadgetnya masing-masing. Ku arahkan pandanganku ke jendela, terbentang ladang luas, hutan yang lebat, perdesaan yang asri. Sesekali aku mengecek hp barang kali ada pesan penting.
“Aku sekarang di stasiun, keretaku akan sampai satu jam lagi di Heidelberg.“
Aku kaget saat menerima pesan darinya, itu berati dia akan menunggu selama satu jam.
„Keretaku akan tiba dalam dua jam jika sesuai jadwal.“
„Aku akan menunggumu!“ balasnya
Dari dulu hingga sekarang memang dia tak pernah berubah, selalu sabar menghadapiku. Kata-katanya selalu menyejukan sanubari. Dia ini manusia atau malaikat sebenarmya?!
„Kereta akan sampai di Stasiun Heidelberg sesaat lagi, kepada para penumpang diharap untuk keluar dari pintu sebelah kanan”
Akhirnya sebentar lagi aku bertemu dia, bagaimana ya dia?! Ponselku berbunyi karena ada pesan masuk.
„Aku menunggumu di dekat pintu“
„Iya, aku melihatmu. Balikan badanmu!“ balasku
Dia yang masih bingung mencariku hanya berputar sambil melihat ke sekeliling. Aku segera menghampirinya agar dia terkejut.
„Hi, apa kabar? Maaf membuatmu menunggu. Lalu kita akan ke mana hari ini?“
„Kamu Wadja?! Hi tidak apa-apa, kita akan naik trem sekarang. Kita tidak punya waktu banyak tapi aku akan mencoba membuat harimu berkesan.“
Kami berdua jalan ke luar stasiun dan mencari trem yang akan kita naiki. Banyak orang yang akan menaiki trem juga, mereka semua menunggu di halte. Ada yang berbincang-bincang dan ada pula yang hanya bermain ponsel. Kali ini aku tak sendiri lagi.
„Ayo Wadja, itu trem kita. Jangan sampai kita menunggu trem selanjutnya.“
Aku hanya terdiam dan mengikutinya dari belakang. Lalu duduk berhadapan sambil berbincang-bincang.
„Bagaimana perjalanan tadi?“
„Kacau sekali, aku tak pernah membayangkan ini terjadi. Tapi untungnya kamu sabar menungguku.“
„Hahaha inilah Jerman! Aku sering mengalami kejadian seperti itu. Waktu aku berangkat kerja, keretaku terlambat berjam-jam. Aku tak bisa sampai tepat waktu di tempat kerja tapi aku sudah mengabari bosku. Namun ia tetap memaksaku untuk tetap datang.“
„Parah sekali! Yang terlintas dipikiranku Jerman merupakan negara yang disiplin dan tepat waktu dalam segala hal.“
Kami terus mengobrol agar tidak canggung dan kaku. Tak terasa akhirnya trem sudah sampai ke tempat yang kami tuju. Daun-daun cokelat berguguran, bangunan-bangunan tua berwarna cokelat bak negeri dongeng. Dari jembatan terlihat sungai Neckar yang dilintasi oleh kapal-kapal. Kita juga dapat melihat di atas bukit Istana Heidelberg yang berdiri dengan megah dan cantik. Hutan yang lebat menyelimuti kota ini. Pasangan muda mudi dan lansia berada di sana. Mereka seakan menikmati waktu dan ingin memberhentikannya agar tetap seperti ini saja.
„Jadi ada dua jembatan di sini, satu sisi untuk kendaraan dan di sisi lain untuk pejalan kaki. Biasanya orang-orang berfoto di sana. Ayo kita ke sana! ”
“Wow cantik sekali kota ini! ” kataku
Aku terbius dan terbungkam seakan tak sepatah kata yang bisa menggambarkannya, aku hanya mengabadikan momen ini di dalam ponsel sambil mendengar ia bercerita.
“Di sini terdapat kampus Heidelberg, kampus tertua di Jerman. Tidak mudah untuk menuntut ilmu di kota ini. Terus di dekat sini ada juga perpustakaan. Di sana bagus dan lengkap sekali koleksinya. Sayangnya hari ini hari libur.“
„Kamu lihat ada patung monyet di deket gerbang jembatan?! Orang-orang berkata patung itu dapat menangkal hal-hal buruk. Banyak sekali orang-orang yang berfoto di sana. Kamu juga ingin?“
„Tapi banyak sekali orang yang antre foto, lebih baik kita langsung ke jembatan saja ya. Aku tak sabar memijakan kakiku di sana.“ sautku
Ternyata tak hanya di Indonesia saja trend mengunci gembok di jembatan. Di sini pun sudah banyak orang yang melakukan hal itu. Mungkin mereka ingin cinta mereka selalu abadi dan hubungan mereka selalu romantis seperti kota ini. Kami berjalan menulusuri jembatan dan melihat gembok-gembok yang terpasang.
„Lihat gembok ini bertuliskan M & W“
„Hah itu pasti kamu yang menuliskan?! Malik & Wadja maksudmu?“candaku.
„Hahaha kita tidak usah menulis lagi kan, hemat.“
„Dasar tidak modal kamu!“
„Hari ini aku akan menurutimu. Kamu ingin kemana saja aku siap mengantarkan, karena hari ini adalah harimu.“
„Baiklah, hari ini aku akan menjadi tuan putri dalam sehari hahaha.“
Malik memang selalu bisa membuatku tertawa dalam kondisi apapun. Kata-katanya seperti motivator kelas satu, apa yang ia ucapkan membuatku bangkit dan selalu bersemangat. Mungkin berkat dia juga akhirnya pertemuan yang sudah lama kami inginkan terwujud. Beribu-ribu mil ku tempuh agar dapat melihat senyumnya. Aku ingin rindu ini kembali kepada pemiliknya, agar segala tanya mendapatkan jawabanya dan agar segala keraguan memperoleh kepastian. Sebenarnya aku juga bingung, kita ini apa, Malik? Kita serasa berjalan sangat jauh, tapi aku tak ingin kau berjalan di belakangku sebagai pengikut dan aku tak mau kau berjalan di depanku sebagai pemimpin. Aku ingin kita berjalan beriringan, agar kita setara.
„Sebaiknya kamu pulang dengan kapal saja, kamu tidak akan terlambat seperti tadi.“
Dia menggodaku yang sedang fokus mengambil gambar sungai Neckar dan kapal-kapalnya.
„Hahaha benar, tidak ada kata macet . Tapi aku bukan anak sultan. Ayo Malik kita ke sana sepertinya dari sudut sana gambarnya terlihat bagus.“
“Bagus sekali pemandangannya! Jadi ini spot foto yang viral itu.“

Dari sudut sini kita dapat melihat jembatan dan istana secara bersamaan. Tiba-tiba saja hujan datang. Tapi aku belum selesai memfoto.
„Hujan sudah turun Wadja, ayo kita pergi ke Altstadt (Kota tua)! Aku tak ingin waktu kita habis di sini.“
„Aku ingin ke istana Malik, tapi kelihatannya sangat tinggi dan jauh.“
„Iya pasti kita akan ke Istana Heidelberg, kau lihat ke arah gerbang itu?! Kita harus melewati Altstadt terlebih dahulu. Kita jalan kaki saja ya, kita kan masih muda.“
„Aku tak yakin aku bisa melaluinya.“
„Pasti bisa! Kita akan lewati bersama, Wadja.“
Apa yang ia ucapkan tadi? Bersama? Aku tak salah dengar kan? Jadi kita ini bisa bersama atau tidak? Jawab malik!
„Wadja…“
Panggilannya membuatku tersadar aku berjalan jauh dibelakangnya.
„Jangan jauh-jauh dariku, tetaplah di sampingku!“
Apa???? Di samping? Berdampingan? Jadi kau juga menginginkannya?
„Wadja…“ panggilnya
Sepertinya dia akan mengungkapkan sesuatu.
„Lihat plang itu, dalam 15 menit kita akan sampai di istana.“
Mengapa ia berkata seperti itu? Aku ingin jawabannya Malik! Mungkin saat di atas sana aku menemukan jawabannya. Sebaiknya aku jalan saja, tapi mengapa tidak sampai-sampai. Jalanan terus menanjak dan tak memiliki ujung, banyak pasangan yang berhenti untuk istirahat atau malah sedang berciuman. Pemandangan macam apa ini. Aku langsung berlari.
„Malik… Perkecil langkahmu, aku tidak kuat lagi.“
„Hahaha maaf ya, kakiku terlalu panjang ini.“
Dasar tidak peka, maksudnya aku pendek? Mengapa dia menyebalkan sekali tidak seperti biasanya. Setelah setengah jam akhirnya kami berada di Istana. Dari ketinggian aku dapat melihat pemandangan kota Heidelberg. Rumah-rumah berwarna cokelat, jembatan yang dilintasi sungai Neckar terlihat sangat kecil dari sini, pepohonan yang berwarana kuning dan cokelat menghiasi sekeliling. Jangan tanya lagi, ini benar-benar seperti lukisan yang indah. Ich hab‘ meinen Herz in Heidelberg verloren. Heidelberg memang mecuri hatiku dengan segala keindahannya yang tak bisa diungkapkan dalam kata-kata dan tak bisa divisualisasikan dengan sebuah gambar. Aku merasa hatiku tertinggal di kota ini.
Saat Malik pergi ke arah lain, diam-diam aku mengamatinya dari kejauhan.
„Wadja sini… Indah sekali bukan pemandangan di tempat ini!“
„Iyaa benar, kamu salah satunya yang melengkapi keindahan itu!“ bisikku
„Apa yang kau katakan?“
„Ah tidak, iya memang indah sekali.“
„Kamu itu orang kedua di media sosial yang aku temui di dunia nyata, aku senang berada di dekatmu.“ ucapnya sambil memandangiku
Apa? Orang kedua? Siapa sebelumya? Kenapa dia mengutarakan seperti itu? Aku butuh kepastian Malik. Jangan-jangan dia hanya bercanda denganku, tapi kenapa semua ini terlihat nyata. Katanya dia tak ingin kehilanganku. Aku masih belum mengerti dengan teka-teki ini. Sepuluh menit berlalu, Malik mengajakku untuk turun karena ia tau keretaku dalam dua jam lagi akan tiba.
„Sudah ya kita makan dahulu, kamu belum makan kan.“
„Aku masih kenyang, lagian aku tidak suka makanan di sini. Terasa aneh di lidahku.“
„Kalau begitu kita beli ice cream saja ya.”
“Nah begitu dong, aku setuju kalau itu.“
Kami memang sangat suka makanan yang manis, terutama ice cream dan cokelat. Tapi Malik mengkonsuminya melebihiku. Pantas saja kadar kemanisan dia diambang batas. Akhirnya kami menikmati ice cream di cuaca dingin seperti ini.
„Enak kan ice cream rasa cokelatnya?”
“Iya Malik, semoga saja besok kita tidak flu ya.”
“Hahaha tidak akan, ini kan terbuat dari susu. Sebentar Wadja, ada pesan masuk.”
“Wadja, Malik berkata bahwa dia tidak bisa menemuimu. Dia sedang ada ujian. Aku yang memberitahunya kalau kau ada di Jerman.“
Tunggu!!! Malik kau berkata apa? Aku tidak mengerti! Lalu kamu itu siapa jika bukan Malik? Sesaat aku terbangun dari lamunanku karena ada pesan masuk dari sahabatku.
„Bagaimana pertemuanmu dengan Willy, dia seperti apa orangnya? Dia sama tidak seperti sahabatnya ? ”
Willy ??? Iya benar dia adalah Willy, sahabat Malik. Aku mengenalnya hanya beberapa bulan saja sebelum keberangkatanku ke Jerman. Dia sama seperti Malik, mudah akrab dengan orang baru. Jadi mudah saja bagiku untuk berkomunikasi dengannya. Dia adalah satu-satunya kunci untuk mencari jejak Malik. Sudah setahun belakangan ini aku tidak berkomunikasi dengan Malik dan aku berharap aku mendapatkan berbagai informasi Malik darinya. Willy menyuruhku menemuinya di saat hari libur, karena dia harus kuliah dan bekerja di weekday. Hari ini adalah hari yang tepat untuk menemuinya. Aku ingin melihat Malik dari sudut pandangmu, Willy.
Tapi aku sudah menduganya. Bila aku harus berada di kota ini, itu artinya aku benar-benar akan kehilangan hatiku. Ja! Ich hab‘ mein Herz in Heidelberg verloren! Aku tak akan menemui Malik! Aku pikir memperkecil jarak akan membuat kau kembali bersamaku. Aku pikir ia hanya butuh waktu sendiri selama ini. Aku pikir dia…. Ah sudah cukup! Kalian pernah bayangkan tidak, patah hati di kota romantis sepeti ini, di saat orang lain pergi bersama pasangannya agar cintanya selalu tumbuh dan bernapas. Dan mungkin hari ini akan ku rayakan sebagai matinya hatiku karenanya. Kisah ini belum dimulai tapi mengapa harus diakhiri?!
„Wadja, ayo cepat kita ke Stasiun, kereta akan datang dalam 20 menit lagi.”
Aku hanya mengikuti Willy dari belakang sambil berpikir terus menerus. Apakah dia yakin akan menyerah? Apakah dia marah karena aku selalu mencarinya? Mengapa dia selalu meminta maaf padaku saat tak mengabari lalu hilang ditelan waktu.
Maaf telah membuatmu selalu bersalah.
Mungkin egoku yang tak mau mengalah.
Atau mungkin kau memilih untuk kalah.
Karena menghadapiku membuat kau lelah.
Hasrat memilikimu terlalu kuat.
Cemburuku terlalu hebat.
Genggamanku terlalu erat.
Hingga melepasmu terasa berat.
Akhirnya aku memasuki kereta bersama dengan Willy. Tak sepatah katapun yang keluar dari mulutku. Aku hanya diam mencermati semua yang terjadi. Memang semua orang yang ada di hidup kita, tidak semuanya bisa bersama. Ada yang datang memberi luka untuk membuat pelajaran, adapula yang berkesan untuk membuat kenangan. Dan kamu memiliki keduanya Malik!