Don’t let your dreams be dreams

Di penghujung 2018 ada satu impian yang membuatku keluar dari zona nyaman. Impian tersebut yaitu pergi ke Land of Idees atau negara Jerman, tempat dimana lahirnya banyak penemu dan tokoh berpengaruh di dunia seperti Albert Einstein, Ludwig von Beethoven, Goethe, Angela Merkel, dan masih banyak lagi. Negara yang menjadi tujuan bagi para mahasiswa di berbagai penjuru dunia untuk melanjutkan study atau melakukan penelitian ini, selain memiliki biaya hidup dan kuliah yang lebih murah dibandingkan Negara Eropa lainnya namun juga memiliki kualitas yang baik.

Kuliah di luar negeri khususnya Jerman bukan hanya diperuntukan bagi kaum bangsawan ataupun anak Sultan ya. Banyak orang pintar yang terkendala biaya namun tetap bisa berkuliah di Jerman. Lah kok bisa??? Pasti bisa dong kalau ada kemauan dan tekad yang kuat. Jerman merupakan negara yang banyak memberikan beasiswa baik di jenjang S1 hingga S3, mereka memberikan beasiswa ini tidak menuntut para pencari ilmu harus bekerja dan menetap di sana setelah lulus. Justru mereka lebih senang jika para penuntut ilmu kembali ke negara asalnya dan memberikan perubahan positif pada negaranya. Kok baik banget sih???

Salah satu alasan Jerman memberikan beasiswa cuma-cuma pada negara Asia khususnya adalah berhubungan dengan masa lalu. Sejarah menyatat bahwa Jerman menjadi negara yang memicu Perang Dunia I dan kalah dalam PD II.  Tak ayal orang asli Jerman malu dengan sejarahnya sendiri yang disebakan oleh diktator  yang menggaungkan Antisemitisme. Ya benar, siapa lagi kalau bukan Hitler. Berbagai cara dilakukan dalam memusnahkan kaum Yahudi, mulai dari diskriminasi dalam perekonomian, pendidikan, sosial bahkan dalam mencari pasangan pun diatur oleh negara. Hitler tidak ingin bangsa Arya ternodai oleh keturunan bangsa Yahudi. Orang Yahudi ataupun keturunan Yahudi akan ditangkap dan dimasukan ke dalam kamp-kamp konsentrasi untuk disiksa hingga mati. Hal inilah yang membuat Jerman ingin membersihkan nama baiknya, salah satunya dengan menyediakan banyak beasiswa.

Siapa sih yang nggak pingin ke luar negeri gratis dan mendapat beasiswa full funded. Mungkin banyak orang memiliki keinginan tersebut namun tak berani meralisasikannya. Mereka banyak menyerah sebelum mencoba atau bahkan sudah mencoba tetapi gagal dan tak ingin bangkit kembali. Salah satu penyedia beasiswa terkenal di Jerman adalah DAAD (Deutscher Akademischer Austauschdienst) yang bekerjasama dengan perguruan tinggi di Indonesia. Melalui jalur ini aku mencoba peruntunganku. Diawali dengan mendaftar beasiswa HSK (Hochsulsommerkurse) atau kursus musim panas di Universitas dan Institut Jerman pada akhir 2018. Pesaing beasiswa ini dari Sabang hingga Merauke dan tentunya merupakan orang yang hebat-hebat. Dalam hati kecil pasti ada ketakutan yang menyuruhku untuk mundur, bagaimana tidak banyak yang lebih pintar dan juga lebih beruntung secara finansial dariku. Kalau dibandingkan ya mungkin aku tidak ada apa-apanya. Namun aku tetap keras kepala pasti akulah salah satu penerima beasiswa itu.

Untuk mendapatkan sesuatu pasti butuh perjuangan dan pengorbanan, nggak mungkinkan kita tidur bangun-bangun langsung mendapatkan sesuatu yang kita inginkan, halu itu mah! Tantangan pertama yaitu datang dari keluarga, terutama orang tua. Hal pertama yang dipikirkan pasti tentang biaya. Dalam hal ini diperlukan komunikasi yang baik untuk meyakinkan orang tua agar mendukung mimpi kita dan jangan lupa gunakan kata-kata indah yang menenangkan hati dan pikiran orang tua! 🙂 Setelah orang tua dapat ditaklukan masalah selanjutnya datang dari administrasi yang super duper ribet. Banyak membaca dan bertanya salah satu kuncinya, untungnya teman-temanku yang mengikuti beasiswa ini bisa diajak kompromi dan kerjasama. Meskipun lawan kami tetap menjadi kawan, kami melengkapi dokumen dan persyaratan bersama-sama dengan diselimuti kekhawatiran dan kebingungan, karena pendaftarannya berbeda dengan beasiswa yang ada di Indonesia. Pendaftaran beasiswa segara ditutup cobaan tak sampai disitu. Kami harus diuji mental oleh pihak kampus karena melengkapi dokumen di detik terakhir. Mungkin dengan kejadian itu menyadarkanku, bahwa manusia harus dijatuhkan terlebih dahulu agar tau cara bertahan dan bangkit.

Entah bau badan kami tercium dari radius berapa, dari pagi hingga petang kami masih berkutat dengan sistem pendaftaran yang menguji kesabaran. Berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain demi menjadi budak wifi hahaha. Sinyal stabil dan kencang sangat dibutuhkan dalam penguplodan semua dokumen yang menjadi persyaratan beasiswa ini. Tahap terakhir yang harus dilakukan adalah mengirim dokumen melalui Pos. Kami menerobos di tengah dingin dan sunyinya malam kota Jogja agar dapat mengirim dokumen hari itu dan berharap sebelum hari Senin dokumen sudah sampai Jakarta. Malangnya pos untuk hari itu sudah berangkat lima menit yang lalu ke Jakarta. Mau tak mau dokumen kami dikirim di hari selanjutnya, sedangkan tiga hari lagi dokumen harus berada di Jakarta. Dengan kepasrahan kami berdoa agar dipermudah segala langkah kami.

Tahun sudah berganti, kami semua mengharapkan tahun ini kami bisa mengunjungi Jerman. Berbulan-bulan kami sabar menanti pengumuman beasiswa, walaupun terkadang mengeluh dan timbul tanya kapan hari itu tiba dan bagaimana reaksi kita setelah menerima pemberitahuan itu senangkah, sedihkah, terharukah atau biasa saja. Tiga bulan berlalu, masih belum juga ada pemberitahuan, setiap hari kami mengecek spam pada email, takut-takut ada pemberitahuan namun kami tidak tahu. Suatu hari dosen kami memberitahukan hanya ada satu orang yang akan menerima beasiswa itu. Tidak tahu apakah harus senang atau sedih. Senang karena salah satu dari kami akan diberi kesempatan ke Jerman dan sedih karena kita tidak tahu siapa yang akan berangkat. Pengumumannya kayak nunggu jodoh sih, lama bat dah. Ehh… bukan itu, sedih karena kita semua tidak bisa ke Jerman bersama. Tapi kita harus ingat pada akhirnya kita akan sendirian dan tidak boleh bergantung pada orang lain, bahkan bayangan kitapun akan meninggalkan kita di saat gelap :(.

Drama masih belum selesai, suatu hari ada teman yang memberitahuku untuk membuka email. Lalu segera aku membukanya dan terdapat tulisan „…Herzliche Gratulation, ihr wurdet beide ausgewählt, einen Hochschulsommerkurs in Deutschland zu besuchen.“ Intinya ada dua orang yang terpilih beasiswa itu dan salah satunya aku. Terbayang nggak sih bangun tidur di siang bolong trus mimpimu terkabulkan. Rasanya antara senang dan terharu. Tak lupa aku bersyukur atas segala nikmat yang diberikan Tuhan padaku, keberhasilan ini tentunya tidak hanya karena jerih payah dan doaku saja ada banyak peran yang berkontribusi dalam cerita ini. Terima kasih banyak atas doa dan bantuan kalian yang tak bisa kusebutkan satu persatu. Pesan dari ibu yang selalu kuingat adalah tetap bersyukur dan rendah hati ketikan impian telah tercapai.  

Setelah kejadian ini semakin meyakinkanku bahwa mimpi kita akan tetap menjadi mimpi jika kita hanya menyimpannya dalam pikiran tanpa melakukan aksi yang nyata. So don’t let your dreams be dreams. Germany i’m comming…

Leave a comment